“Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaaan dan pasrah oleh keputus asaan.”
(Hasan Al-Banna)
Pergerakan mahasiswa pasca reformasi semakin menunjukkan kelemahannya dalam sebuah perencanaan jangka panjang. Mahasiswa maju tempur dengan segenap semangat, dan harapan namun-terkesan- tidak siap dengan apa yang akan dilakukan pasca reformasi tersebut. Tambah lagi dengan pergiliran kepimpinan mahasiswa yang tidak dibarengi dengan penyampaian visi, atau layaknya mekanisme pergantian pemimpin bangsa ini yang diikuti pergantian visi di setiap pergantian kepemimpinan.
Banyaknya ideologi-ideologi dalam dunia kampus sebenarnya adalah hal yang seharusnya bisa dimaklumi. Hal tersebut jangan menjadi sebuah alasan untuk menghambat laju pergerakan mahasiswa sebagai social control. Masyarakat kita masih terlalu bodoh untuk memahami hal-hal seperti itu. Desakan ekonomi dan semakin banyaknya permasalahan sosial otomatis akan membuat masyarakat akan lebih memikirkan perutnya sendiri. Bagi mereka, hal-hal yang di-demonstrasi-kan oleh mahasiswa akan menjadi sekedar angin lalu disbanding dengan permasalahan “personal” yang mereka hadapi. Sudah saatnya mahasiswa mencari formula baru dalam proses menyadarkan masyarakat. Tidak lagi sekedar demonstrasi di perempatan jalan. Tetapi lebih kepada sumbangsih pemikiran yang membangun.
Namun permasalahnya saat ini, berapa banyak mahasiswa yang memiliki mind set seperti itu? Kawan-kawan mahasiswa yang notabene adalah kelompok paling intelektual selain pemerintahan, mayoritas masih berfikir kerdil. Bak singa bermental kambing, akibat singa tersebut hidup di dalam sebuah mekanisme kehidupan kambing. Sejak lahir ia dipelihara kambing. Menyusu, tidur, tumbuh dan berkembang layaknya kambing. Bahkan tak lagi meng-aum melainkan meng-embik. Hingga suatu saat komunitas kambing menuntut sang singa untuk melindungi mereka dari serangan serigala, namun yang bisa dilakukan hanya ikut lari dan mengembik sambil berlindung di balik induk “semu”-nya.
Kelompok Apatis: Bodoh atau Takut?
Sama dengan gerakan mahasiswa, bergerak tergantung dengan induknya pemikirannya sosial masyarakatnya. Parahnya, mahasiswa saat ini cenderung lahir dari sebuah mekanisme peradaban yang apatis. Mayoritas anak-anak di negeri ini diajarkan sejak kecil untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya lalu bekerja supaya hidup layak. Memang bukan sebuah pemikiran yang salah, akan tetapi efek sampingnya adalah munculnya anak-anak yang hanya berpikir bagaimana cara menyejahterakan dirinya. Kondisi yang (seolah) stabil akan menyuburkan lahirnya mahasiswa apatis. Apalagi jika tidak mau berpikir kritis dalam memandang kondisi masyarakat saat ini.
Saya teringat dengan cuplikan sebuah film yang berjudul “GIE”. Dalam beberapa adegannya tampak sosok Gie berkali-kali diserbu dengan pertanyaan “mengapa sih harus selalu berontak?”. Dengan mengambil latar tahun 1965-1966, bukan hanya Gie, saya sendiri malah merasa aneh jika ada pertanyaan seperti itu. Melihat kondisi Negara yang kacau balau, bukankah sudah sepantasnya ada kelompok yang berusaha melakukan perbaikan? Bukankah bodoh sekali jika kita ditindas lalu kita tidak berontak?
Berbagai pertanyaan muncul di benak saya. Apa yang menyebabkan mahasiswa masih harus bertanya-tanya jika ada di antara mereka, muncul sosok mahasiswa yang rela bersusah payah memikirkan nasib masyarakatnya? Seharusnya kaum-kaum apatis itulah yang diberi pertanyaan “mengapa anda diam saja?”
Mungkin mereka hanya sekedar belum paham. Belum ada yang menyadarkan mereka bahwa kita ini bangsa yang hobi ditindas. Di masa penjajahan kita ditindas bangsa asing. Di awal kemerdekaan hingga akhir orde baru kita ditindas “Raja-Raja” baru dari bangsa kita sendiri. Lalu, sekarang, kita ditindas lagi oleh bangsa asing dan orang-orang kita sendiri plus ditindas oleh kebodohan kita yang tidak sadar kalau kita sedang tertindas. Mereka hanya belum paham atau jangan-jangan mereka itu sudah paham. Tetapi penakut seperti singa bermental kambing.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar